Living Architecture :

Share Your

Abundance

Fasilitator Utama

Ir.Agustinus Sutanto ,M.Arch.,M.Sc.,Ph.D

Fasilitator Pendamping

Ir. Sutarki Sutisna, M.Ars

Maria Veronica Gandha, S.T., M.Arch.

Alm Ir.Dewi Ratna Ningrum, M.M

Dalam merancang ruang publik, apakah tepat untuk menganggap semua orang sama? Dalam merancang untuk masyarakat yang beragam, apakah angka cukup untuk mewakili setiap individu? Kesenjangan ekonomi dan ketegangan sosial terkait SARA bukanlah sesuatu yang baru di Jakarta, tetapi mengapa solusi yang diberikan selalu sebuah “ruang publik” yang seolah menyamakan semua penggunanya? Entah ini baik atau tidak, tetapi sampai saat ini tidak mudah untuk menemukan seseorang yang berasal dari etnis tionghua kelas menengah atas di ruang publik yang disediakan oleh pemerintah. Dengan adanya perbedaan di antara kelompok etnis tionghua menengah atas dengan etnis lain dari kelas menegah bawah, mengapa tidak dilakukan perancangan yang bukan menutup mata terhadap perbedaan ini tetapi justru merangkulnya?

Pluit, Jakarta Utara dapat dikatakan sebagai kawasan perumahan menengah atas (Pluit, Muara Karang, Pantai Indah Kapuk) yang dikelilingi oleh permukiman warga kelas menengah bawah (Muara Baru, Muara Angke, Kapuk). Sebagian besar warga Pluit berasal dari etnis tionghua, sebagian besar dari warga di sekitar Pluit berasal dari etnis lain yang beragam. Jika ada yang unik dari perumahan di Pluit maka itu keluarga tiga generasi, sesuatu yang wajar bagi kelompok etnis tionghua, dan jika ada yang unik dari isi rumah tiga generasi maka itu adalah hidup dalam “kelimpahan”. Terlalu banyak lemari, terlalu banyak pakaian bekas, terlalu banyak makanan tersisa, terlalu banyak perabot lama, terlalu banyak peralatan dapur yang sudah tidak dibutuhkan, terlalu banyak benda yang tidak lagi dibutuhkan namun tidak ada yang tahu harus dikemanakan. Jika ada yang dibutuhkan kelompok menengah bawah di sekitar mereka maka itu adalah benda apapun yang masih layak guna. Mengapa tidak kita biarkan keduanya saling mengisi peran ini?

Kelompok yang satu mendonasikan dari kelimpahan mereka, kelompok lain menerima dan memanfaatkan benda-benda tersebut sebagaimana seharusnya. Mengapa menyumbang hanya dilakukan setahun sekali melalui acara amal? Bukankah mereka yang membutuhkan ada di sekitar kita? Dalam merancang ruang publik, apakah tepat untuk menghadirkan sebagai suatu “produk selesai”? Apakah ruang publik yang “cantik” cukup untuk menjawab kebutuhan masyarakat? “Pola mengakar seperti dicontohkan di atas dilandasi keyakinan bahwa pembangunan yang berhasil adalah yang mampu menumbuhkan menumbuhkan rasa harga diri dan percaya diri, sehingga masyarakat terangsang sendiri untuk aktif berperan serta dalam setiap gerak pembangunan.” (Budihardjo, 1984)

Bagaimana jika arsitektur hadir dalam “bentuk” yang sederhana sehingga warga lokal mendapat kesempatan untuk turut mengambil peran dalam pembentukannya? Bagaimana jika arsitektur yang dihadirkan bukan merupakan suatu wujud akhir tetapi awal dari segala upaya adaptasi karya arsitektur terhadap perubahan yang ada dan yang akan datang? Mungkin bukan bangunannya, tetapi lemari disini, meja disana, piring di ujung sana, pot tanaman di sebelah sini, mengapa tidak kita biarkan pengguna bangunan yang menentukannya? Mungkin proyek ini adalah satu di antara beberapa yang menempatkan pengguna sebagai partisipan dan bukan  hanya sekedar tamu.

Mengapa perubahan itu tidak dimulai dari kita sebagai masyarakat dan bukan intervensi pemerintah? Proyek ini adalah tentang cara berbagi yang lebih mudah dan menghadirkan arsitektur yang lebih dekat dan “tangible” dengan masyarakat “awam”.

Atsuhiro Kubo

Nim

Unit

No Hp

Email

Instagram 

315160151

3

081617964689

kubukubo@gmail.com

kubukubo

Fasilitator Utama

Maria Veronica Gandha, S.T., M.Arch.

Fasilitator Pendamping

Ir. Sutarki Sutisna, M.Ars.
Ir. Agustinus Sutanto, M.Sc., M.Arch., Ph.D.
Alm Ir.Dewi Ratnaningrum, M.M

Poster PE.JPG