Maria Iqnasia Veren

Nim

Unit

No Hp

Email

Instagram 

315160143

3

085252690816

Iqnasiaveren@gmail.com

Iqnasiaveren

Fasilitator Utama

Ir. Agustinus Sutanto, M.Sc., M.Arch., Ph.D.

Fasilitator Pendamping

Ir. Sutarki Sutisna, M.Ars.
Maria Veronica Gandha, S.T., M.Arch. 
Alm. Ir. Dewi Ratnaningrum, M.M.

Bayang Bayang

Tembawang

Bagaimana bila di masa depan, manusia sudah tidak bisa lagi melihat hutan rimba yang konon menyimpan banyak cerita indah dan kenangan-kenangan masa lampau. Prediksi ini didasari pada tingginya tingkat deforestasi di dunia, termasuk pada sejumlah kawasan hutan di Indonesia, terutama di Pulau Kalimantan, Sumatra, dan Papua.

Bagaimana melihat hubungan antara ‘dwelling’ dengan kondisi 'hari ini'? Setiap manusia tentunya mempunyai insting untuk bertahan hidup, sehingga cenderung memanfaatkan potensi yang ada semaksimal mungkin, dengan alasan untuk bertahan hidup. Maka dari itu, kita tidak lagi melihat lingkungan adalah bagian dari diri kita. ...“Maka, kita kemudian belajar untuk mengakumulasi aset sebanyak banyaknya,  karena itu bagian dari insting untuk bertahan hidup"..., menurut pemahaman Reza Gunawan, seorang praktisi kesehatan holistik, dalam video yang dinarasikan oleh Christine Hakim dengan tema “Kiamat yang Tak Terhindarkan”. Tetapi yang menjadi permasalahannya adalah, sepanjang sejarah kehidupan di bumi ini, nasib semua makhluk hidup belum pernah ditentukan oleh satu spesies saja, sehingga poin yang harus digarisbawahi bukan tertuju pada keberlangsungan hidup manusia, tetapi pada keberlangsungan alam. Bagaimana konsep ‘dwelling’ menjawab tantangan ini dalam cara berhuni di dunia? dan adakah konsep ‘keruangan’ yang berubah dalam perjalanan waktunya?

Dalam studi tugas akhir ini, melalui proyek “Bayang-Bayang Tembawang”, penulis mengajak masyarakat untuk lebih membuka mata, rasa, dan hati untuk melihat lebih dekat keajaiban-keajaiban yang ada pada hutan kita. Sehingga dengan proyek arsitektur ini, diharapkan dapat merubah cara kita memandang lingkungan. Mimpi proyek ini yaitu membentuk perilaku dan pola pikir yang baru, tentang bagaimana manusia memandang lingkungan/alam. Sehingga nantinya tercipta interaksi yang dapat membangkitkan perasaan, emosi, kesadaran, dan keterikatan dengan alam dan pentingnya hutan, agar di masa kini dan di masa depan, manusia dan lingkungan bisa berjalan beriringan. Dengan ruang ini pula, anak-anak muda, khususnya masyarakat modern, bisa merasakan bagaimana wujud tembawang atau hutan rimba yang pernah ada di bumi ini, yang mungkin saat ini sangat jarang bisa dilihat lagi.

Nilai utama yang memfasilitasi proyek ini yaitu kisah tentang hutan rimba dan bayang-bayang kerinduan masa lalu yang semuanya tertulis dalam kumpulan puisi karya 44 penyair di Kalimantan Barat, dengan judul “Bayang-Bayang Tembawang”. Dalam 108 puisi yang dibingkai dalam buku ini, menceritakan pengalaman nyata bagaimana keselarasan dan keharmonisan manusia dengan alam semesta yang disebut Tembawang. "Akan tetapi apakah benar masih demikian pada zaman sekarang?" Puisi-puisi inilah yang menjadi pembentuk narasi dalam keseluruhan konsep proyek ini, dan melalui pendekatan fenomenologi, kisah-kisah tersebut coba dibangun kembali melalui ruang arsitektur.