Nicholas Andreas

Nim

Unit

No Hp

Email

Instagram 

315160107

6

08119555278

w.nicholasandreas@gmail.com

nichohueban

Fasilitator Utama

Alvin Hadiwono, S.T., M.T.

Fasilitator Pendamping

Ir. J.M. Joko Priyono, M.Ars.

Ir. Petrus Rudi Kasimun, M.Ars.

Ir. Suwandi Supatra M.T.

Air-chitecture

Technical & Poetic Purification in Dwelling

Air-chitecture : Technical & Poetic purification in dwelling adalah upaya pembentukan wadah berhuni bagi penduduk kota untuk dimurnikan dari polusi udara. Dimana Air-chitecture menggunakan berbagai cara purifikasi untuk membebaskan penghuni kota dari berbagai dimensi dampak polusi udara yang kian diabaikan.

Dunia, tempat tinggal manusia telah berkembang pesat sejak masa revolusi industry, namun kemajuan ini juga diikuti oleh kerusakan alam yang mematikan.. Jakarta adalah titik polusi udara terparah di Indonesia dimana sebagian besar penduduknya selalu terpapar polusi udara karena gaya hidupnya yang bermobilitas tinggi. Polusi udara telah merenggut banyak jiwa di seluruh dunia, tidak terkecuali Jakarta, dimana di masa depan penduduknya akan dihadapi oleh kesehatan yang memburuk, penyakit pernafasan, hingga kelangsungan hidup yang tidak terjamin. Hal ini menjadikan polusi udara sebagai sebuah ancaman yang tidak dapat dihindari, yang hanya akan memburuk kedepannya. dengan ini timbul sebuah pertanyaan, dapatkah arsitektur membantu manusia berhuni di tengah kota dengan polusi udara?

Kebayoran Baru dipilih sebagai lokasi proyek, lebih tepatnya kelurahan melawai atau lebih banyak dikenal melalui kawasan transit dan perbelanjaan Blok M. Kawasan ini merupakan salah satu titik panas polusi udara di Jakarta karena mobilitas kendaraan penduduk dan pendatang yang tinngi, terutama pada kawasan site terpilih yang dekat dengan terminal bus Blok M. Berbanding terbalik dengan citra blok M sebagai kawasan pembangunan berorientasi transit yang seharusnya mendukung gaya hidup yang lebih sehat, pada realitanya kualitas udara yang buruk malah membahayakan kesehatan para pengguna transportasi umum yang berusaha mengurangi jejak karbonnya. Fenomena ini menjadi sebuah siklus kejadian yang menahan manusia untuk bisa hidup dengan hijau; setidaknya sampai mereka dapat melanjutkan usahanya tanpa terancam oleh polusi udara. karena kenyataannya, penyebab polusi udara tidak hanya berada pada lingkungan fisik, namun juga lingkungan pikiran yang kian membentuk dan menentukan perilaku manusia terhadap lingkungan itu sendiri.

Air-chitecture hadir sebagai sebuah konsep yang mengupayakan Purifikasi persepsi dan Lingkungan dari segala polutan untuk dapat memecah gaya hidup lama yang polutif ini menjadi sebuah proses berhuni yang ideal. Untuk mencapai hal ini, proses pemurnian harus dapat menjangkau manusia dari 2 aspek dasar pembentuknya, yaitu aspek fisik (tubuh), dan aspek non-fisik (pikiran); yang berarti arsitektur purifikasi perlu dilakukan dalam 2 aspek, yaitu secara teknis dan secara puitis, dimana purifikasi teknis berarti menciptakan udara bersih bebas dari polusi, dan purifikasi puitis berarti menciptakan pengalaman yang menjernihkan pikiran dari ‘polutan’. Melalui pengalaman purifikasi ini, diharapkan manusia dapat kembali memaknai peran krusial dari lingkungan dan udara bersih dalam proses berhuni, juga menghormati dan menjaga udara bersih. Karena ketika manusia sadar akan kefanaan bumi dan dirinya, niscaya ia akan menjaga kelangsungan hidup dalam kefanaannya.